Pendidikan adalah soal manusia dengan segala kompleksitasnya. Tidak hanya dilakukan di bangku sekolah, tetapi juga di dalam keseharian, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas. Pendidikan diibaratkan sebagai cahaya yang menerangi peradaban manusia. Bagaimana dan untuk apa manusia memanfaatkan cahaya penerang tersebut bergantung pada konteks dimana dan kapan manusia itu berada.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, dr. Wahidin Sudirohusodo telah menyadari pentingnya memberikan akses pendidikan di masyarakat. Ia mewujudkan impiannya dengan mendirikan organisasi Boedi Utomo pada 20 Mei 1908. Hingga kini, tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. 

Kini, setelah puluhan tahun kemerdekaan Indonesia, banyak hal yang telah kita capai, namun tak sedikit pula tujuan ideal pendirian bangsa sebagaimana tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945 yang belum terwujud. Disisi lain, kehidupan manusia saat ini semakin tidak dapat dilepaskan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka sudah sewajarnya jika kita menegaskan kembali peran ilmu pengetahuan pada era Indonesia masa kini.

Di Indonesia, pendidikan terbilang bermutu amat rendah. Sistem pendidikan yang masih amat kacau ditambah dengan belum dijadikannya ilmu pengetahuan sebagai sebuah kebutuhan oleh sebagian masyarakat. Gelar akademik sekadar digunakan untuk meningkatkan nama baik keluarga. Pada akhirnya, kesulitan menekuni bidang keilmuan  yang hanya bermuara pada kegiatan pamer.

Pemerintah pun kurang lebih mengadospi pola pikir serupa. Ilmu pengetahaun bukan lagi dijadikan dunia petualangan intelektual, tetapi menjadi dunia lomba menerbitkan jurnal. Hal serupa terjadi pada para ilmuan, penelitian tidak ditekuni untuk mengembangkan ilmu pengetahuan melainkan untuk mengejar suatu proyek. Alhasil, penelitian pun sekedar menjadi laporan yang tak berdampak pada perubahan sosial masyarakat luas.

Selama ini kebanyakan orang diyakinkan oleh sebuah prinsip bahwa :”Pendidikan adalah hak dasar seorang manusia”, “memberikan pelayanan pendidikan adalah kewajiban sebuah Negara”. Pandangan hidup tersebut pada tahap selanjutnya menjadi “dengan pendidikan, manusia menjadi pintar dan kreatif dalam mensiasi hidup” bahkan sampai pada pemikiran ”dengan pendidikan manusia akan lebih mudah menghadapi tantangan-tantangan hidup”. Artinya, tanpa pendidikan manusia tidak mampu menjalani hidup secara wajar dan cenderung liar dan brutal dalam menghadapi hidup.

Buntunya dunia pendidikan di Indonesia berakar pada tiga hal. Pertama, kegiatan akademik dan penelian ilmiah dilakukan sekedar sebagai formalitas. Tidak adanya semangat pencarian dan pendalaman ilmu disana. Yang lebih terasa ialah semangat berburu dana penelitian, dan memperoleh nama besar di dunia penelitian ilmiah dan akademik.

Dua, yakni kesempitan berpikir dan krisis akal sehat. Ketika ilmu pengetahuan dilihat hanya sekedar formalitas belaka, ia tidak punya daya ubah peradaban. Masyarakat tetap akan hidup dalam kesempitan berpikir yang melahirkan fanatisme dan radikalisme dalam segala bentuknya. Pada satu titik, ini juga akan melahirkan gerakan terorisme global.

Tiga, semua ini sebenarnya bisa diubah dengan kuatnya kehendak politik untuk menciptakan perubahan dari pihak pemerintah. Namun, sampai sekarang, jabatan penentu kebijakan pendidikan tetap dipenuhi kepentingan sempit politik dan agama. Selama itu terjadi, dunia pendidikan akan terus mengalami kebuntuan.

Walaupun peran pemerintah amat besar bagi perkembangan dunia ilmu pengetahuan di Indonesia, tapi kita tidak perlu terlalu bergantung pada mereka. Yang bisa kita lakukan adalah perubahan paradigma di tingkat kegiatan belajar dan meneliti sehari-hari, salah satunya dengan melalui kegiatan pendidikan. Sangat disayangkan apabila pendidikan lebih cenderung meggunakan gaya pendidikan bercerita ketimbang gaya pendidikan kritis seperti dialog, diskusi, debat dan problem solving. Yang sejatinya, akan membawa perubahan positif dalam perilaku hidup manusia sehari-hari.

Pendidikan disadari atau tidak adalah instumen utama dalam mentransformasikan pengetahuan dan membentuk kesadaran sosial budaya, ekonomi, politik dan agama, dan yang paling utama adalah terbentuknya paradigma kritis yakni upaya membongkar segala bentuk ketidakadilan masyarakat serta menciptakan manusia-manusia yang merdeka, bebas dari semua bentuk penindasan baik dengan interens material maupun idelogi tertentu. Tentunya, dengan menggunakan paradigma teori kritis ini akan menciptakan penyadaran terkait kondisi sosial dan membawa perubahan sosial di masyarakat, seberapapun kecilnya.

Pada titik ini, pendidikan dan penelitian tidak lagi sekedar menjadi ajang mencari dana dan nama besar. Keduanya lalu dijadikan alat untuk mengembangkan wawasan, kebijaksanaan sekaligus mendorong perubahan sosial ke arah keadilan yang lebih besar bagi masyarakat luas. Pertanyaannya, mau dibawa kemana pendidikan Indonesia? Ke arah inilah seharusnya dunia ilmu pengetahuan Indonesia dibawa. Pemerintah boleh lamban dalam hal ini, namun kitalah yang harus mulai terlebih dahulu.

Pendidikan di Indonesia, Mau Dibawa Kemana?

Sabtu, 08 Agustus 2020
0 Comments
Tidak diragukan lagi bahwa sihir  yang menguasai akal dan pikiran, jiwa dan hati serta tingkah laku masyarakat pada masa lampau, telah berkurang pengaruhnya kepada manusia dan masyarakat di masa sekarang. Hanya saja pengaruhnya  ini masih tetap tersembunyi dan mengakar kuat dalam otak bawah sadar pada bangsa-bangsa modern. Hal tersebut menjadi kekuatan tersembunyi dan samar bagi masyarakat dengan orientasi tertentu. Kekuatan tersembunyi ini bisa berkurang atau bahkan bertambah kuat tergantung kepada kondisi masyarakat serta interaksi mereka dengan banyak faktor fundamental, seperti faktor pengetahuan, ekonomi, keamanan, dan agama serta banyak lagi faktor-faktor yang lainnya. (DR.Kamal.I.A,Kupas tuntas masalah jin dan sihir,Darussunnah;hal.268)


Sebuah masyarakat, semakin tinggi tingkat ilmu pengetahuan, terdidik dan penuh kesadaran, tentu akan menjauh dari sihir, sulap, santet atau sebutan apapun yang ada padanya, serta menganggap hal tersebut sebagai hal yang tidak berguna. Begitu juga dengan orang yang menekuninya berarti orang yang hina. Sebaliknya semakin jauh masyarakat dari ilmu, tidak terdidik, dan bodoh, maka semakin kuat pula mereka terjebak dalam perangkat sihir, bahkan meyakininya sebagai solusi atau jalan keselamatan. Begitu pula halnya dengan faktor ekonomi, ia sangat berperan penting dalam masyarakat. Pada masyarakat miskin, keyakinan tentang sihir, jin, hantu, santet, sulap dan sejenisnya banyak diyakini sehingga orang-orang yang memiliki sihir dan sulap semakin banyak, tujuannya adalah untuk mengeruk dan mengumpulkan harta (ingin kaya secara instan) dari orang-orang yang lalai, bodoh, dan lemah kepribadiannya serta iman.

Sedangkan pada masyarakat yang kaya kita akan mendapatkan bahwa perhatian mereka terhadap sihir lebih sedikit. Seandainya ada kelas masyarakat semacam ini masih juga berhubungan dengan sihir, maka biasanya hal itu dilakukan hanya sekedar hiburan atau hanya untuk bersenang-senang, atau karna senang berpetualang dan menghabiskan waktu. Akan tetapi, perlu diingat bahwa hubungan manusia dengan sihir yang berkaitan dengan kondisi pribadi seperti cinta, benci, menikah, hasad dan persaingan, tetap ada dalam dua jenis masyarakat yang kaya maupun yang miskin.

Adapun faktor keamanan, maka ia sangat berpengaruh terhadap kedekatan masyarakat dengan sihir. Kondisi masyarakat yang labil, serba ketakutan, selalu resah gelisah, atau teraniaya dan terjajah akan banyak bergantung kepada sihir serta semakin inovatif sarana dan cara yang dipakai. Selain itu, akan muncul nama sebagian penyihir yang tersohor serta bertambah iman dan ketundukkan terhadap ucapan penyihir dan penyulap. Para penyihir atau dukun atau sebutan yang lainnya akan semakin bertambah kuat pengaruhnya ditengah masyarakat, mereka dipandang sebagai penyelamat, pelindung, dan orang-orang yang mampu memberikan solusi yang tidak pernah salah. Kondisi ini akan berbalik 180 derajat jika sebuah masyarakat hidup ditengah kenyamanan dan keamanan, artinya perhatian terhadap sihir pada kondisi seperti ini akan melemah dan berkurang, serta keyakinan terhadap kemampuan-kemampuan sihir akan sirna.

Sementara sisi agama dan aqidah merupakan faktor yang sangat penting dalam membatasi interaksi manusia dengan sihir. Jika faktor agama tampak nyata dan berpengaruh dalam mengatur suatu masyarakat, maka secara otomatis sihir dan segala yang berkaitan dengannya akan sirna, manusia akan beramai-ramai kembali dan bersimpuh dihadapan Allah Ta’ala karna tidak ada satupun agama langit yang membolehkan atau mendiamkan sihir. Sebaliknya semua agama memerangi sihir dan para pelakunya serta memperingatkan manusia darinya, memutuskan hukum-hukum yang tegas dan berat yang berhak diterima oleh para penyihir atau dukun yaitu hukuman mati, serta memperingatkan siapa yang meyakini sihir dan para pelakunya termasuk kekufuran atau keluar dari Islam. (Ibid, hal 269)

Adapun sihir yang sering kali dijumpai di masyarakat adalah sebagai berikut:

Sihir Pemisah
Yang dimaksud dengan sihir pemisah adalah sihir yang ditujukan untuk mencerai beraikan atau memisahkan pasangan suami istri yang saling mencintai. Juga termasuk ke dalam sihir ini adalah sihir yang ditujukan untuk membuat permusuhan dan kebencian di antara dua orang sahabat atau kerabat dekat.  Jenis sihir ini telah disebutkan dalam al-Qur’an. Allah berfirman:
“Maka mereka mempelajari dari keduanya sihir yang dengannya mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 102)
Pekerjaan menceraikan antara pasangan suami istri adalah pekerjaan yang paling dicintai dan dikagumi oleh iblis, raja para setan.

Sihir Mahabbah (Penarik Cinta/Pelet)
Tentang ini Rasulullah pernah bersabda:
((
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ ))
Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat dan tiwalah (pelet) adalah kesyirikan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim; dishahihkan oleh al-Albani)


Sihir Pembuat Gila
Sihir ini berpengaruh membuat seseorang menjadi seperti gila atau kurang waras. Di antara pengaruhnya adalah seorang bepergian tanpa tujuan, linglung dan sangat pelupa. Terkadang dia berbicara nyerocos (tidak beraturan), terkadang matanya menatap kosong tanpa makna, terkadang tidak bisa langgeng dalam mengerjakan sesuatu, terkadang seseorang tidak tahu kemana dia harus pergi dan terkadang tidur di tempat-tempat terpencil.

Sihir Pembuat Kelesuan
Sihir jenis ini bisa berpengaruh membuat seseorang yang tadinya normal dan energik menjadi suka menyendiri dan tertutup, terkadang pusing terus menerus tanpa sebab yang jelas dan terkadang diam dan tampak lesu.

Sihir Suara Panggilan
Sihir jenis ini di antara pengaruhnya adalah membuat seseorang melihat mimpi-mimpi yang menyeramkan.

Sihir Pembawa Penyakit
Ada banyak macam penyakit yang bisa ditimbulkan oleh sihir jenis ini. Di antaranya adalah:
a.       Sakit terus-menerus pada salah satu anggota tubuh.
b.      Urat-urat menjadi kejang.
c.       Lumpuh pada salah satu anggota tubuh (mati rasa atau mati sebelah).
d.      Lumpuh total (mati suri).
e.       Tidak berfungsinya salah satu indera.
f.        Dan gejala-gejala aneh atau sering dalam medis tidak diketahui secara pasti penyebabnya

Satu hal yang harus diketahui, bahwa sihir ini tidak akan menimbulkan pengaruh kecuali dengan takdir Allah. Jadi, jangan disangka bahwa sihir bisa menyebabkan seseorang sakit terlepas dari takdir Allah dan para tukang sihir tidak mampu menimbulkan mudharat atau bencana kecuali dengan izin Allah semata

Sihir Penghalang Pernikahan
Sihir ini terjadi karena seorang yang dengki lagi penuh tipu daya datang kepada seorang tukang sihir yang jahat lalu meminta supaya dibuatkan sihir untuk anak perempuan si fulan. Setelah itu ada dua kemungkinan yang akan dilakukan oleh setan: 
  1. Masuk ke dalam tubuh wanita itu lalu membuatnya merasa tidak cinta dan tidak suka kepada setiap lelaki yang datang melamarnya.
  2. Setan melancarkan sihir dengan cara mengelabui pandangan laki-laki yang melihat wanita itu sehingga setiap laki-laki yang datang melamar wanita tersebut akan melihat bahwa wanita itu jelek rupanya dan tidak menarik.
Sihir Untuk Melepas Sihir (Nusyrah)
Sihir jenis ini dilakukan oleh tukang sihir atas permintaan keluarga atau kerabat orang yang terkena sihir. Setelah itu tukang sihir akan meminta kepada setannya untuk mengusir atau menghadapi setan lain yang mengganggu orang yang sakit tadi.

Fenomena Sihir di Masyarakat

Senin, 13 April 2020
0 Comments
Etika dalam Organisasi
Istilah etika berasal dari bahasa Yunani yaitu “ethos” yang berarti watak atau kebiasaan. Dalam bahasa sehari-hari kita sering menyebutnya dengan etiket yang berarti cara bergaul atau berperilaku yang baik yang sering juga disebut sebagai sopan santun. Istilah etika banyak dikembangkan dalam organisasi sebagai norma-norma yang mengatur dan mengukur perilaku profesional seseorang. Kita mengenal saat ini banyak dikembangkan etika yang berkaitan dengan profesi yang disebut sebagai etika profesi seperti etika kedokteran,etika hukum, etika jurnalistik, etika guru, dan sebagainya
Etika Organisasi
Etika berkaitan dengan baik dan buruk, benar dan salah, betul dan tidak, bohong dan jujur. Dalam berinteraksi dengan lingkungannya orang-orang dapat menunjukkan perilaku yang dinilai baik atau buruk,benar atau salah ketika melakukan suatu tindakan. Hal tersebut sangat bergantung kepada nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungan dimana orang-orang berfungsi. Tidak jarang terdapat penilaian yang berbeda terhadap suatu perilaku dalam lingkungan yang berbeda.Etika menggambarkan suatu kode perilaku yang berkaitan dengan nilai tentang mana yang benar dan mana yang salah yang berlaku secara obyektif dalam masyarakat. Dengan demikian, etika dapat diartikan sebagai perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Secara lengkap etika diartikansebagai nilai-nilai normatif atau pola perilaku seseorang atau badan/lembaga/organisasi sebagai suatu kelaziman yang dapat diterima umum dalam interaksid engan lingkungannya

Prinsip-prinsip Etika
Dalam peradaban sejarah manusia sejak abad keempat sebelum Masehi para pemikir telah mencoba menjabarkan berbagai corak landasan etika sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Para pemikir telah mengidentifikasi sedikitnya terdapat ratusan macam ide agung (great ideas). Seluruh gagasan atau ide agung tersebut dapat diringkas menjadi enam prinsip yang merupakan landasan penting etika, yaitu keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan, kebebasan, dan kebenaran

1. Prinsip Keindahan
Prinsip ini mendasari segala sesuatu yang mencakup penikmatan rasa senang terhadap keindahan. Berdasarkan prinsip ini, manusia memperhatikan nilai-nilai keindahan dan ingin menampakkan sesuatu yang indah dalam perilakunya. Misalnya dalam berpakaian, penataan ruang, dan sebagainya sehingga membuatnya lebih bersemangat untuk bekerja.

2.Prinsip Persamaan
Setiap manusia pada hakikatnya memiliki hak dan tanggung jawab yang sama, sehingga muncul tuntutan terhadap persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, persamaan ras, serta persamaan dalam berbagai bidang lainnya. Prinsip ini melandasi perilaku yang tidak diskrminatif atas dasar apapun.

3.Prinsip Kebaikan
Prinsip ini mendasari perilaku individu untuk selalu berupaya berbuat kebaikan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Prinsip ini biasanya berkenaan dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti hormat-menghormati, kasih sayang, membantu orang lain, dan sebagainya. Manusia pada hakikatnya selalu ingin berbuat baik, karena dengan berbuat baik dia akan dapat diterima oleh lingkungannya. 

4.Prinsip Keadilan
Pengertian keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya mereka peroleh. Oleh karena itu, prinsip ini mendasari seseorang untuk bertindak adil dan proporsional serta tidak mengambil sesuatu yang menjadi hak orang lain.

5.Prinsip Kebebasan
Kebebasan dapat diartikan sebagai keleluasaan individu untuk bertindak atau tidak bertindak sesuai dengan pilihannya sendiri. Dalam prinsip kehidupan dan hak asasi manusia, setiap manusia mempunyai hak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya sendiri sepanjang tidak merugikan atau mengganggu hak-hak orang lain. Oleh karena itu, setiap kebebasan harus diikuti dengan tanggung jawab sehingga manusia tidak melakukan tindakan yang semena-mena kepada orang lain. Untuk itu kebebasan individu disini diartikansebagai:
  • kemampuan untuk berbuat sesuatu atau menentukan pilihan
  • kemampuan yang memungkinkan manusia untuk melaksanakan pilihannya tersebut
  • kemampuan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
6. Prinsip Kebenaran
Kebenaran biasanya digunakan dalam logika keilmuan yang muncul dari hasil pemikiran yang logis/rasional. Kebenaran harus dapat dibuktikan dan ditunjukkan agar kebenaran itu dapat diyakini oleh individu dan masyarakat. Tidak setiap kebenaran dapat diterima sebagai suatu kebenaran apabila belum dapat dibuktikan.

Semua prinsip yang telah diuraikan di atas merupakan prasyarat dasar dalam pengembangan nilai-nilai etika atau kode etik dalam hubungan antarindividu, individu dengan masyarakat, dengan pemerintah, dan sebagainya. Etika yang disusun sebagai aturan hukum yang akan mengatur kehidupan manusia, masyarakat, organisasi,instansi pemerintah, dan pegawai harus benar-benar dapat menjamin terciptanya keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan, kebebasan, dan kebenaran bagi setiap orang.

DIMENSI ETIKA DALAM ORGANISASI
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa etika merupakan cara bergaul atau berperilaku yang baik. Nilai-nilai etika tersebut dalam suatu organisasi dituangkan dalam aturan atau ketentuan hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis. Aturan ini mengatur bagaimana seseorang harus bersikap atau berperilaku ketika berinteraksi dengan orang lain di dalam suatu organisasi dan dengan masyarakat di lingkungan organisasi tersebut. Cukup banyak aturan dan ketentuan dalam organisasi yang mengatur struktur hubungan individu atau kelompok dalam organisasi serta dengan masyarakat di lingkungannya sehingga menjadi kode etik atau pola perilaku anggota organisasi bersangkutan.

Birokrasi
Nilai-nilai yang berlaku dalam suatu organisasi secara konseptual telah dikembangkan sejak munculnya teori tentang organisasi. Salah satu teori klasik tentang organisasi yang cukup dikenal dan sangat berpengaruh terhadap pengembangan organisasi adalah birokrasi. Menurut teori ini, ciri organisasi yang ideal yang sekaligus menjadi nilai-nilai perilaku yang harus dianut oleh setiap anggota organisasi adalah
  • adanya pembagian kerja
  • hierarki wewenang yang jelas
  • prosedur seleksi yang formal
  • aturan dan prosedur kerja yang rinci, serta
  • hubungan yang tidak didasarkan atas hubungan pribadi.
Teori birokrasi menempatkan setiap anggota organisasi dalam suatu hierarki struktur yang jelas, setiap pekerjaan harus diselesesaikan berdasarkan prsedur dan aturan kerja yang telah ditetapkan, dan setiap orang terikat secara ketat dengan aturan-aturan tersebut. Selain itu,hubungan antarindividu dalam organisasi dan dengan lingkungan didalam organisasi hanya dibatasi dalam hubungan pekerjaan sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Dalam model organisasi ini pola perilaku yang berkembang bersifat sangat kaku dan formal.

Prinsip Manajemen Organisasi
Berbeda dengan teori birokrasi terdapat teori lain yang mengidentifikasi prinsip-prinsip manajemen organisasi. Prinsip-prinsip ini cukup banyak diadopsi oleh para pimpinan organisasi, baik publik maupun swasta. Prinsip-prinsip ini bahkan ditemukan juga dalam organisasi yang dikelola secara birokratis. Prinsip-prinsip tersebut adalah pembagian kerja, wewenang, disiplin, kesatuan perintah (komando), koordinasi, mendahulukan kepentingan organisasi, remunerasi, sentralisasi versus desentralisasi, inisiatif, dan kesektiakawanan kelompok.

Pembagian kerja
Pembagian kerja yang sangat spesifik dapat meningkatkan kinerja dengan cara membuat para pekerja lebih produktif. Para spesialis dipandang akan sangat mahir dengan spesialisasinya karena hanya melakukan bagian tertentu dari suatu pekerjaan.
Wewenang
Untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik, setiap anggota harus diberi kewenangan tertentu seimbang dengan tugas yang dipikulnya. Selanjutnya setiap wewenang yang diberikan harus diikuti dengan tanggung jawab yang seimbang pula.
Disiplin
Para pegawai harus menaati dan menghormati peraturan yang mengatur organisasi. Disiplin yang baik merupakan hasil dari kepemimpinan yang efektif, saling pengertian yang jelas antarapimpinan dan para pegawai tentang peraturan organisasi, serta penerapan sanksi yang adil bagi yang menyimpang dari peraturan tersebut.
Kesatuan Perintah
Setiap pegawai hanya menerima perintah dari satu orang atasan. Tidak boleh terjadi ada dua nakhoda dalam satu kapal

Pembentukan Etika Dalam Pemerintah
Sebagaimana diuraikan sebelumnya, etika merupakan nilai-nilai perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang atau suatu organisasi dalam interaksinya dengan lingkungan. Nilai-nilai perilaku yang ditunjukkan oleh individu sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut oleh individu tersebut serta nilai-nilai yang berlaku dan berkembang dalam organisasi yang kemudian menjadi suatu kebiasaan yang berakumulasi menjadi budaya yang akan dianut oleh organisasi tersebut.

Arti & Pentingnya Etika dalam Organisasi
Etika adalah suatu sikap dan perilaku yang menunjukkan kesediaan dan kesanggupan seseorang secara sadar untuk mentatati ketentuan dan norma kehidupan yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat atau suatu organisasi, Etika organisasi menekankan perlunya seperangkat nilai yang dilaksanakan setiap orang anggota. nilai tersebut berkaitan dengan pengaturan bagaimana seharusnya bersikap dan berperilaku dengan baik seperti sikap hormat, kejujuran, keadilan dan bertanggung jawab. Seperangkat nilai tersebut biasanya dijadikan sebagai acuan dan dianggap sebagai prinsip-prinsip etis atau moral.

Dalam kehidupan organisasi terdapat berbagai permasalahan yang pemecahannya mengandung implikasi moral dan etika, ada cara pemecahan yang secara moral dan etika diterima tetapi ada juga yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dalam praktek kehidupan organisasi tidak ada tolok ukur yang mutlak tentang yang benar dan yang salah, ini tidak terlepas dari berbagai faktor seperti agama, budaya dan sosial.

Beberapa alasan mengapa norma moral dan etika itu diperlukan dalam organisasi :
  • Karena etika berkaitan dengan perilaku manusia. Agar bisa mengikuti kehidupan sosial yang tertib manusia memerlukan kesepakatan, pemahaman, prinsip dan ketentuan lain yang menyangkut pola perilak
  • Karena dinamika manusia dengan segala konsekuensinya baik bersifat norma moral maupun etika perlu dianalisa dan dikaji ulang
  • Karena Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai dengan keyakinan agama, pandangan hidup dan social.
Dalam lingkungan organisasi pemerintahan seorang aparatur dituntut untuk bekerja sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. secara etis seseorang aparatur merasa terpanggil untuk melayani kepentingan publik secara adil tanpa membedakan kelompok, golongan, suku, agama serta status sosial. seharusnya seorang aparatur harus dapat menjadikan dirinya sebagai panutan tentang kebaikan dan moralitas pemerintahan terutama yang berkenaan dengan pelayanan kepada publik. Dia senantiasa menjaga kewibawaan dan citra pemerintahan melalui kinerja dan perilaku sehari-hari dengan menghindarkan diri dari perbuatan yang tercela yang dapat merugikan masyarakat dan negara. Jadi Etika pada dasarnya merupakan upaya menjadikan moralitas sebagai landasan bertindak dan berperilaku dalam kehidupan bersama termasuk di lingkungan profesi administrasi (Ryass Rasyid, 1996,43-44).

Profesi dimaksudkan sebagai pekerjaan untuk mecari nafkah hidup dengan mengandalkan keahlian dan keterampilan sesuai dengan tuntutan dan persyaratan organisasi pemerintahan, dengan melibatkan komitmen pribadi (moral) yang mendalam atas pekerjaannya itu, ia melibatkan seluruh kepribadiannya sehingga mendorong untuk menjalankan tugasnya dengan tekun, giat, serius untuk melayani kepentingan publik. Ia tidak mengerjakan pekerjaannnya sekedar sebagai hoby, sebagai sambilan apalagi asal-asalan. Komitmen pribadi inilah yang melahirkan tanggungjawab yang besar atas tugas yang diembannya.

Intinya bahwa seorang PNS, seorang aparatur haruslah memiliki persyaratan seorang professional yang mendapat kepercayaan publik atau masyarakat yang dilayani. Dia dipercayai dan diandalkan memiliki keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Lebih dari itu seorang aparatur yang profesional dipercaya masyarakat karena mempunyai komitmen moral, etis serta bertanggungjawab penuh atas pekerjaannya kepada public (Public Accountability).

Sebagai PNS,,Sudahkah kita beretika didalam melaksanakan pekerjaan yang ditugaskan kepada kitaaa?

Karena semua pekerjaan akan kita pertanggungjawabkan kelak dikemudian hari,,  dihadapan Allah.Swt…
Sumber : Modul Diklat PIM IV (LAN-2008)

Etika dalam Organisasi

Sabtu, 04 Agustus 2018
0 Comments
Seperti yang telah kita ketahui, bahan-bahan kimia yang biasa terdapat di laboratorium kimia banyak yang bersifat berbahaya bagi manusia maupun bagi lingkungan sekitar. Ada yang bersifat mudah terbakar, beracun, berbau tajam yang berdampak pada kesehatan, merusak benda-benda di sekitar bahkan dapat mematikan makhluk hidup.

Keselamatan kerja di laboratorium sangatlah penting. Oleh karena itu, pada wadah atau tempat bahan-bahan atau zat kimia diberi simbol-simbol yang bertujuan untuk memberi keterangan mengenai sifat dan bahaya zat tersebut. Diharapkan kita dapat berhati-hati dalam penggunaan bahan-bahan kimia tersebut demi keselamatan bersama. Untuk itu, sebelum kita memasuki laboratorium kimia perlu kita pahami beberapa simbol tanda bahaya tersebut untuk menghindari kesalahan-kesalahan dan bahaya yang tidak kita inginkan. Berikut beberapa simbol-simbol tanda bahaya yang ada beserta keterangannya.


Simbol
Keterangan



Nama : Irritant
Arti : Bahan yang dapat menyebabkan iritasi, gatal-gatal dan dapat menyebabkan luka bakar pada kulit.
Tindakan : Hindari kontak langsung dengan kulit.
Contoh : NaOH, C6H5OH, Cl2




Nama : Toxic
Arti : Bahan yang bersifat beracun, dapat menyebabkan sakit serius bahkan kematian bila tertelan atau terhirup.
Tindakan : Jangan ditelan dan jangan dihirup, hindari kontak langsung dengan kulit.
Contoh : Metanol, Benzena.


Nama : Very Toxic
Arti : Bahan yang bersifat sangat beracun dan lebih sangat berbahaya bagi kesehatan yang juga dapat menyebabkan sakit kronis bahkan kematian.
Tindakan : Hindari kontak langsung dengan tubuh dan sistem pernapasan.
Contoh : Kalium sianida, Hydrogen sulfida, Nitrobenzene dan Atripin.

Nama : Korosif
Arti : Bahan yang bersifat korosif, dapat merusak jaringan hidup, dapat menyebabkan iritasi pada kulit, gatal-gatal dan dapat membuat kulit mengelupas.
Tindakan : Hindari kontak langsung dengan kulit dan hindari dari benda-benda yang bersifat logam.
Contoh : HCl, H2SO4, NaOH (>2%)

Nama : Flammable
Arti : Bahan kimia yang mempunyai titik nyala rendah, mudah terbakar dengan api bunsen, permukaan metal panas atau loncatan bunga api.
Tindakan : Jauhkan dari bend
-benda yang berpotensi mengeluarkan api.
Contoh : Minyak terpentin.

Nama : Highly Flammable
Arti : Mudah terbakar di bawah kondisi atmosferik biasa atau mempunyai titik nyala rendah (di bawah 21°C) dan mudah terbakar di bawah pengaruh kelembapan.
Tindakan : Hindari dari sumber api, api terbuka dan loncatan api, serta hindari pengaruh pada kelembaban tertentu.
Contoh : Aseton dan Logam natrium.


Nama : Extremely Flammable
Arti : Bahan yang amat sangat mudah terbakar. Berupa gas dan udara yang membentuk suatu campuran yang bersifat mudah meledak di bawah kondisi normal.
Tindakan : Jauhkan dari campuran udara dan sumber api.
Contoh : Dietil eter (cairan) dan Propane (gas).


Nama : Explosive
Arti : Bahan kimia yang mudah meledak dengan adanya panas atau percikan bunga api, gesekan atau benturan.
Tindakan : Hindari pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain bahkan tanpa oksigen atmosferik.
Contoh : KClO3, NH4NO3, Trinitro Toluena (TNT).


Nama : Oxidizing
Arti : Bahan kimia bersifat pengoksidasi, dapat menyebabkan kebakaran dengan menghasilkan panas saat kontak dengan bahan organik dan bahan pereduksi.
Tindakan : Hinarkan dari panas dan reduktor.
Contoh : Hidrogen peroksida, Kalium perklorat.

Nama : Dengerous For the Environment
Arti : Bahan kimia yang berbahaya agi satu atau beberapa komponen lingkungan. Dapat menyebabkan kerusakan ekosistem.
Tindakan : Hindari kontak atau bercampur dengan lingkungan yang dapat membahayakan makhluk hidup.
Contoh : Tributil timah klorida, Tetraklorometan, Petroleum bensin.




Simbol Bahaya Pada Bahan-Bahan Kimia

Sabtu, 23 September 2017
0 Comments

- Copyright © Fhadli's Blog - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -